Language Games in Digital Communication: An Analysis of Wittgenstein’s Theory on the Twitter Platform

Authors

  • Muhammad Natsir State University of Medan Author
  • Ivana Gracia Tarigan State University of Medan Author
  • Cristin Atalia Sinaga State University of Medan Author
  • Muhammad Hilmy Zhafran State University of Medan Author
  • Nabila Putri Balqis State University of Medan Author

DOI:

https://doi.org/10.70692/ye6fbq93

Keywords:

Language games, Twitter, Digital communication, Social Trends, Language evolution

Abstract

Ludwig Wittgenstein dalam Philosophical Investigations (1953) berpendapat bahwa makna bahasa hanya dapat dipahami dalam konteks penggunaannya dalam praktik sosial tertentu. Di era digital, Twitter telah menjadi salah satu platform utama untuk berbagi aforisme dan kata-kata motivasi guna memberikan inspirasi, membangun koneksi emosional, atau mengekspresikan nilai-nilai tertentu. Format pendek Twitter, dengan batas 280 karakter, menciptakan tantangan sekaligus peluang bagi pengguna untuk menyampaikan pesan yang bermakna secara ringkas dan kreatif. Artikel ini menganalisis bagaimana konsep Wittgenstein tentang language games relevan dalam memahami fenomena aforisme di Twitter. Dengan menganalisis 10 tweet populer bertema kehidupan, kesuksesan, dan kebahagiaan, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pengguna Twitter membentuk makna kata-kata motivasi melalui konteks sosial, visualisasi, dan gaya bahasa. Hasilnya menunjukkan bahwa aforisme di Twitter sering menggunakan metafora, struktur repetitif, dan gaya bahasa puitis untuk menciptakan kesan mendalam. Selain itu, makna tweet bergantung pada pengalaman subjektif pembaca, yang menunjukkan relevansi teori Wittgenstein bahwa bahasa tidak memiliki makna tetap di luar praktik sosialnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa meskipun aforisme di Twitter dapat memotivasi dan menginspirasi, seringkali terdapat ambiguitas makna karena minimnya konteks atau penggunaan bahasa yang terlalu universal. Hal ini dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda, tergantung pada latar belakang pembaca. Dengan pendekatan analisis kualitatif terhadap 10 tweet, artikel ini memberikan wawasan tentang bagaimana bahasa di era digital terus berkembang sebagai alat komunikasi sosial dan refleksi budaya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi studi lebih lanjut tentang hubungan antara komunikasi digital, teori bahasa, dan kesejahteraan psikologis dalam masyarakat modern.

 

References

Austin, J. L. (1962). How to Do Things with Words. Oxford University Press.

Boyd, D., & Ellison, N. B. (2007). Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), 210220. https://doi.org/10.1111/j.1083-6101.2007.00393.x.

Kripke, S. (1982). Wittgenstein on Rules and Private Language. Harvard University Press.

Lakoff, G., & Johnson, M. (1980). Metaphors We Live By. University of Chicago Press.

McCulloch, G. (2019). Because Internet: Understanding the New Rules of Language. Riverhead Books.

Turkle, S. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. Penguin Press.

Wittgenstein, L. (1953). Philosophical Investigations. Blackwell Publishing.

Kapur, P. (2021). The Role of Metaphor in Digital Communication: Analyzing Tweets through Cognitive Linguistics. Journal of Digital Media Studies, 10(2), 1530. https://doi.org/10.1016/j.jdms.2021.05.003.

Smith, J., & Taylor, R. (2020). Social Media and Language Evolution: A Pragmatic Analysis of Twitter Aphorisms. Language and Society, 49(3), 435458. https://doi.org/10.1017/S0047404520000156.

Chen, L., & Xu, H. (2022). Ambiguity in Motivational Messages on Twitter: A Linguistic Perspective. New Media & Society, 24(1), 5572. https://doi.org/10.1177/14614448211023145.

Downloads

Published

2024-09-25

How to Cite

Language Games in Digital Communication: An Analysis of Wittgenstein’s Theory on the Twitter Platform. (2024). Journal of Learning and Teaching, 1(2), 56-60. https://doi.org/10.70692/ye6fbq93